Senin, 30 Juli 2018

Seindah Rasa Sebening Cinta




Seindah Rasa Sebening Cinta



Mencintaimu dalam diam, melihatmu dari jauh, mengagumimu tanpa terlihat.menyelipkan sebait namamu dalam setiap do`aku. Berharap kamulah yang tertulis dilauhul mahfudzku. Itulah caraku mencintaimu wahai pemuda baik dan lembut tutur katanya. Sruttt
“Astagfirulloh Fina, ihh sini-sini balikin kertasnya.” Menatap Fina kesal. “Eitss, engga..wleee” Diapun lari membawa kertas itu, aku hanya bisa melihatnya pasrah. “Pinjam yooo Syabil”. Ahh tamat sudah riwayatku! Fina sudah membaca kertas itu. Semoga dia tidak tahu siapa yang kumaksud dalam tulisan itu.
  Namanya Zahira Safinnatun Najah dia adalah sahabatku. Kami sebangku dari kelas sepuluh, dia cantik, baik hanya saja yang kusayangkan dari sahabatku yang satu ini adalah pakaian dan hijabnya. Dia berhijab tapi tidak sesuai syari`at, rambutnya masih sering kelihatan dan jilbabnya sering ia tekuk keatas sehingga dadanya tidak tertutup oleh hijabnya. Padahal aku sering mengingatkan, tapi katanya "Aku belum siap Syabil, akhlakku masih gini hehe. Aku belum siap seperti kamu yang syar`i, lembut. Nanti aja yah kalau dapet hidayah pasti ko berubah tenang saja." Selalu saja itu alasan yang ia katakan, belum siaplah, belum dapat hidayahlah. Padahal hidayah itu dijemput bukan ditunggu, dan siap itu harus disegerakan bukan dinanti-nanti toh kalau gitu kapan siapnya coba, keburu ajal menjemput.
“Masyaalloh Syabilla Almaa Khanza lagi jatuh cinta ternyata cieeee cieeeee.. hayoo siapa pemuda baik itu?” Akupun langsung merebut kertas yang dipegang Fina. “Yaa Alloh apaan sih Fin, engga ya itu cuma iseng aja ko.”  “Hemm masa iseng tapi kata-katanya dalem.”. Aku hanya menekuk wajahku kesal. “Eh eh Bil, ada dia datang, Bil liat aku! Gimana udah cantikkan? Rapi kan?.” Dia yang dimaksudnya adalah Muhammad Saiful Fathan, ketua Remaja Masjid yang cerdas, ganteng, ramah, hafidz lagi. “Udah cantik tapi sayang kalau auratnya masih kelihatan.” Dengan malas dia memutar bola matanya. “Syabil aurat apa sih, kan aku pakai hijab.”. “Nihh... ini apa? Rambut itu aurat Fin. Harusnya kamu pakai ciput biar rambutnya ga kelihatan, terus udah dibilangin berapa kali kerudungnya jangan ditekuk ah.”. “Iya.. iya bu ustadzah” Sementara Fina sedang membenarkan kerudungnya, Fathan dan temannya melewati tempat duduk kami. Astagfirulloh kenapa jantung ini mulai tak kontrol lagi, aku segera menundukan pandanganku. “Assalamu`alaikum ukhty-ukhty permisi.” “Wa`alaikumussam” Kataku dan Fina berbarengan.
Setelah mereka tak terlihat Fina berkata, “Bil boleh aku jujur?” Aku sedikit merapatkan alisku heran saja kayaknya pembicaraanya serius. “Boleh Fin, ada apa?”. Dia membenarkan posisi duduknya, “Emm jadi gini, sebenarnya dari kelas sepuluh aku suka sama Fathan Bil”.  
Deg! Fina suka Fathan? 
”Iya Bil diam-diam aku sering perhatiin dia kalau dikelas, dia itu tampan sholeh lagi.” Aku hanya tersenyum menanggapinya. “Pokonya ya Bil aku akan berusaha biar dia menyukaiku.” Jujur saja ada rasa sakit mengenai hatiku saat Fina menyampaikan semua itu, tapi aku hanya bisa diam. “Oh iya Bil, tadi Fathan ke masjid pasti mau sholat dhuha kan? kita sholat dhuha juga yuk!.” Aku menyetujui ajakan Fina, lagipula aku  butuh Alloh untuk curhat.
Dalam hati aku berdo'a, “Yaa Alloh mencintai-Mu sungguh menentramkan jiwaku, meneduhkan hatiku, mendingankan segala emosiku. Namun, saat cinta ini mulai terbagi untuk makhluk-Mu aku takut, aku takut melalaikan cinta-Mu. Aku tahu ini salah. Yaa Alloh aku yakin rencana-Mu sangatlah indah, orang yang selalu kesebut dan kuselipkan namanya disetiap do’a-do’aku ternyata sahabatkupun justru menyukainya. Yaa Alloh janganlah engkau merubah sikapku kepada mereka, biarlah cinta ini terus terpendam dan entah sampai kapan akan kupendam. Jikapun nantinya mereka berjodoh kumohon ikhlaskanlah hati ini. Aamiin”.
Diteras mesjid aku dan Fina sedang disepatu, ditempat alas kaki ikhwan terdapat Fathan dan teman-temannya sedang berbincang-bincang, “Eh Than, Ente kan ikhwan terpopuler nih seantero sekolah ini, terus Ente juga kan banyak fans akhwatnya. Kira-kira ada ga sih satu akhwat yang masuk kriteria Ente?” Fathan tersenyum, “Kriteria apa ya? Ya kalau Ana sih yang jelas dia sholehah, baik, syar’i, rajin baca Al-Qur’an.” “Masyaalloh mungkin mirip-mirip Syabil ya?” “Hehe ya seperti itulah kurang lebih.” Sambil garuk-garuk tengkuknya yang tak gatal. “Beuhhh kayaknya lulus nanti siap-siap terima undangan nih.”Merekapun tertawa bersama.
Ada perasaan senang sekaligus khawatir disini, senangnya karena perkataan Fathan dan teman-temannya tapi disisi lain aku juga takut pasti Fina kecewa. Kulihat mata  Fina mulai berkaca-kaca. Segera kuraih tangannya tapi dia menghempasnya, dia berlari meninggalkan ku seorang diri. Aku mengejarnya, dia terus membelakangingku aku tak henti-hentinya meminta maaf padanya. Padahal jelas-jelas ini bukan salahku. “Fin kamu jangan nangis, kalau aku salah aku minta maaf ya Fin.” Diapun membalikan badanya, dia menatapku begitu tajam sampai aku takut menatap balik matanya. Hikss hikss, “Syabil, aku tidak cocok ya Bil sama Fathan?” Dia memeluku dengan tangis yang makin terasa menyayat hatiku. “Bil, aku mencintai dia lebih dari apapun Bil, jadi bantu aku untuk jadi seperti apa yang dia mau ya Bil. Aku akan berhijab seperti kamu, aku juga akan rajin baca Al-Qur’an, kalau perlu aku ingin jadi Hafidzoh.” Katanya penuh semangat.
Dengan penuh kesabaran dan keikhlasan aku membimbingnya untuk berhijrah, meskipun niatnya masih salah karena hijrahnya hanya untuk Fathan bukan murni karena Alloh. Terkadang terbesit rasa sakit dalam hati ini karena berarti aku memberi Fina kesempatan untuk mendapatkan Fathan. "Yaa Alloh sebenarnya rahasia apa yang ingin kau tunjukan padaku."
Waktu berlalu begitu cepat, tiba saatnya kelulusan SMAku, aku meraih Nilai Ujian terbesar tahun ini dan juga terpilih masuk ke Universitas Padjajaran Fakultas Kedokteran jalur SNMPTN. Sedangkan sahabatku Fina dia memilih sekolah di Universitas yang dominan keagama. Saat aku berkumpul dengan teman-teman yang lain ada Fathan menghampiri kami dia mengajak Fina dan meninggalkan kami semua. Dalam hati aku bertanya-tanya, "Mereka mau kemana?"

Fina Pov
Aku dan Fathan duduk dibawah pohon mangga depan perpustakaan, disana aku tidak berdua ada Maya, Sisildan teman-teman Fathan juga kami semua berkumpul, hanya saja mereka juga sibuk dengan pembicaraannya masing-masing. tapi, ada Vika yang sedari tadi ada diantara aku dan Fathan, “Ada apa Than, Oh iya setoran hafalan ya? Hehe iya lupa sekarang juz 2 kan?”  Fina berbicara antusias. "Loh, kalau mau setoran hafalan Syabilnya ko ga diajak, aku sertornya kan sama Syabil, terus kamu biasanya hanya mengevaluasi. sekarang bukan jadwalnya deh Than." aku bicara sangat cepat. “Aku akan pergi ke Kairo Fin”. aku sangat terkejut mendengarnya, “Ka- kairo kenapa?” “Alhamdulillah aku dapat beasiswa disana dan melanjutkan study disana. Mungkin sekitar 5 tahun baru aku kembali ke Indonesia”. Air mataku tak kuasa lagi untuk meluncur, aku menangis dihadapannya, dihadapan orang yang kucintai. “Aku minta maaf Fin, lanjutkan hijrahmu itu Fin. Dan ubahlah niat hijrahmu hanya untuk Alloh bukan untukku. Aku tahu kamu mencintaiku, tapi hati ini milik Alloh jadi pintalah pada Sang Maha Pemilik hati ini”. Aku semakin tertunduk menangis meratapi diriku. Memang benar hijrahku selama ini hanya untuk makhluk Alloh yang bernama Fathan, aku tidak benar-benar menyertakan Alloh dalam proses hijrahku. Aku malu sangat malu pada Aloh. “Satu lagi Fin, aku titip surat ini untuk Syabil. Maaf aku tidak bisa menemuinya kali ini, tapi insyaalloh sepulang dari sana aku akan menemuinya. Fin aku harap kamu tidak membenciku”. Dengan napas berat aku berhenti menangis, aku menyeka sisa-sisa air mata dengan punggung telapak tanganku. “Tak apa Than, justru aku bersyukur pernah menyukaimu, pernah mengharapkanmu, pernah menyebutmu dalam setiap do’a-do’aku. Aku juga bersyukur karna dengan mencintaimu aku bisa berubah kearah yang lebih baik meskipun niat awalku salah. Terimakasih karena telah hadir mewarnai hidupku. Insyaalloh aku akan lebih memantaskan diri lagi agar Alloh sandingkan aku dengan pria yang baik jua, bukan begitu?” Fathan tersenyum bangga melihat ketegaran hatiku, padahal ini semua sungguh sangat memilukan.
“Syabil, ini ada titipan surat dari Fathan untukmu” Syabil mengambil suratnya lalu dimasukan kedalam tas. “Fin kamu habis nangis ya?”, aku menunduk. “Kamu kenapa Fin? coba cerita ke aku”. “Aku malu, aku malu Bil, Aku malu pada Alloh. Aku sudah membagi cintanya, aku malu Bil aku samgat berdosa hikss”. “Ya Alloh Fina sudah-sudah Alloh kan Maha Pemaaf jadi kita mohon ampunlah pada-Nya, Insyaalloh jika kita sungguh-sungguh bertaubat Alloh akan menerima taubat kita”. “Aamiin iya Bil, mulai hari ini akan kuluruskan niatku berhijrah hanya karena Alloh bukan atas iming-iming hal apapun. Dan aku sudah memutuskan untuk tak berharap lagi pada Fathan, dia sepertinya lebih cocok denganmu Bil. Aku akan lebih dekat lagi pada Alloh, aku akan memperbaiki diri lagi”

5 tahun kemudian

Syabilla Pov

“Qobiltu nikahaha wa Tazwijahaalal Mahril Madzkuur wa Radhitu bihi, Wallahu Waliyut Taufiq”
Bagaimana Saksi?
SAAHHHH
Alhamdulillahirobbil’alamiin..
Aku bersama Fina duduk dikasur kamar, kami sama-sama mendengarkan proses ijab qabul yang diucapkan Muhammad Saiful Fathan, pemuda yang semasa SMA selalu kupinta dan kusebut namanya dalam do’aku. Dengan rasa yang tak bisa kugambarkan senyum mengembang terukir dibibirku, kebahagianku tercipta hari ini, aku benar-banar diposisi yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. aku memeluk sahabatku Fina yang sedari ada disampingku dan menggenggam tanganku. Air mata bahagia melucur disela-sela senyumanku. Yaa Alloh inilah akhir penantianku, inilah akhir kegalauanku, inilah puncak keikhlasanku. Akhir dimana aku benar-benar harus ikhlas melepas Fathan untuk sahabatku. Orang yang ku cintai akhirnya berjodoh dengan sahabatku sendiri.
“Barakkalloh Fin, semoga kamu dan Fathan menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah” aku masih memeluknya, sambil terus beristigfar dalam hati. Jujur aku masih menyukai Fathan, tapi sekarang dia milik orang lain. “Syukron Syabil”. Tak lama kemudian Fathan masuk kedalam dan aku beranjak keluar, aku mencari tempat duduk yang agak jauh dari keramaian orang. Memoriku berputar kembali ke masa-masa SMA dahulu.

Flashback on
Kubuka surat yang diberi Fina. Dengan penuh rasa penasaran aku membukanya

Teruntuk Akhawat yang manis lesung pipinya
Assalamu’alaikum Syabilla Almaa Khanza
Kamu adalah wanita yang Alloh kirim dalam kehidupanku, kau yang selalu datang dalam fikiranku, kau yang selalu kuadukan dan kupinta kepada Rabbku. Menyukaimu adalah hal yang tak bisa kuelakan. Bertahun-tahun kupendam rasa ini, rasa yang muncul dalam hatiku. Sungguh bukanlah keinginanku untuk cepat-ceoat menghapusmu dalam bayanganku. Jujur aku sudah berusaha tapi hasilnya tetap sama kau selalu menghantui otak dan fikiranku.
Namun, rasa itu semakin hari semakin melemah saat aku mencoba beristikharah ternyata jawaban dari do’a-do’a yang kupanjatkan bukanlah kamu jawabannya. Melainkan sahabatmu Zahira Safinnatun Najah. Dulu memang aku tak percaya karena Alloh memberi jawaban itu ketika awal semester dua kelas dua belas. Aku tidak menyangka orang itu Fina. Akupun mencoba beristikharah lagi dan jawabannya tetap sama. Aku senang saat dia memulai hijrah, aku senang melihat perubahannya yang begitu pesat. Benih-benih rasa itu kini muncul tapi aku tetap mengontrolnya. Saat ku tahu kau Syabilla Almaa Khanza ternyata kaupun menyukaiku. Aku tahu semua itu dari buku catatan harianmu yang tertinggal dimasjid dulu. Sungguh aku sangat bahagia ternyata orang yang kusukai dari dulu ternyata membalas rasa ini. Namun, Alloh berkehendak lain bukan kamu yang Alloh gariskan untuk menjadi pendampingku kelak tapi justru sahabatmu Safinatunn Najah.  Takdir kita semua sudah tertulis dilauhul mahfudznya. Aku tahu kamu orang yang terjaga. Insyaalloh, Alloh kan sandingakanmu dengan lelaki yang lebih baik. Maaf jika aku melukai perasaanmu.
Tertanda
Pemuda Baik dan Lembut Tutur Katanya
Muhammad Saiful Fathan
Flashback off

“Assalamu’alaikum Ukhty, masih ingat saya?” seseorang telah membuyarkan lamunanku. Aku melihatnya sebetar lalu kutundukan lagi pandanganku dan meggeleng. “Saya Muhammad Fadhil, dulu kita satu kelas di SMP. Ingat?” akupun tersunyum “Masyaalloh iya iya saya ingat”. Tiba-tiba lagu Ta’aruf yang dibawakan oleh Ka Anandito mengalun indah memecah kecanggungan diantara kami. 

Kau adalah teman masa laluku 
Yang kini ingin ku perjuangkan 
Sudah lama aku mencari
Celah untuk menemukan dirimu lagi
Ini niatku.... 
Izinkan ku mengenalmu 
Agar keyakinan kupadamu tumbuh dalam hati 
Izinkan ku membaca kisahmu 
Agar aku bisa mengerti siapa dirimu dan semua tentangmu 
Tersenyumlah bila kau bersedia

 Seminggu setelah pertemuanku dengan Fadhil dia datang kerumah memberikan CV Ta’aruf untukku, aku sangat terkejut. Tapi kata Umi dicoba dulu siapa tahu cocok dan setelah kami bertukar CV Ta’aruf, kemudian kami menjalani proses Ta’aruf selama 3 bulan lamanya. Kami merasa ada kecocokan prosespun dilanjutkan ketahap Khitbah dan dalam tempo 1 bulan lagi aku akan menikah dengannya.
Ya Muhammad Fadhil bin Ramdhani uzawwijuka ‘ala ma amarollohu min imsakin bima’rufin au tasriihim bi ihsanin, ya Muhammad Fadhil anakahtuka wa zawwaj-tuka makhthubataka Syabilla Almaa Khanza bin Taufiq bi mahri mushaf alquran wa alatil ‘ibadah haalan
“Qobiltu nikahaha wa Tazwijahaalal Mahril Madzkuur wa Radhitu bihi, Wallahu Waliyut Taufiq”
 Jujur saja aku merasa ada yang berbeda dalam hatiku, ada rasa yang tidak pernah kualami sebelumnya. Jatuh Cinta, jatuh cinta secepat satukalimat tanpa helaaan nafas, lugas dan bermakna. Inilah jawab atas do’a-do’a yang kupanjatkan pada Rabbku.
Terimakasih Alloh kau obati semua lukaku tanpa harus melupakan, tanpa harus mendendam. Meskipun cintanya tak tercipta untukku tapi Kau hadirkan pengganti yang lebih baik yang saat ini menjadi imamku, yang kan menuntunku untuk menuju Jannah-Mu.